Lawan Covid-19 Tetap Stay at Home

Mewabahnya suatu penyakit merupakan salah satu ujian iman, bagi yang arif dan bijak dalam menyikapinya. tidak perlu panik, hanya meluruskan niat dan sempurnakan ikhtiar, kemudian baru tawakkal. banyak hikmah dengan keadaan seperti sekarang ini, salah satunya bahwa seluruh apapun yang ada, membuktikan pada kita, bahwa selama ini kita dilenakan dan disibukan dengan dunia, karir,jabatan,prestasi dll, adalah semuanya milik Allah SWT dan sudah menjadi hak Prerogatif nya Allah, kapanpun dan dengan kehendakNya, semua akan terjadi. lalainya diri merupakan teguran Allah untuk kembali, introspeksi, muhasabah, dan taubat. cara yang terbaik setelah dengan bertawakkal dan stay at home,menikmati kebersamaan keluarga, saling memaafkan dan ikhlas, sabar terhadap ujian, karena Allah Ta’ala hendak meninggikan derajat orang mukmin yang sabar. Sehingga dicoba dengan musibah dan wabah.

bersabar menahan diri untuk tetap berada di rumah saja, dan menghindari kerumunan. Usahakan tetap melakukan kegiatan produktif di rumah, sambil mendoakan para tenaga kesehatan yang sedang berada di garda terdepan melawan Corona.

Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan berada dekat wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar. Seperti diriwayatkan dalam hadits berikut ini:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Artinya: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)

Rasulullah merupakan teladan hingga akhir zaman. Tidak hanya akhlaknya yang mulia, namun juga cerdas dalam menyikapi sebuah masalah. Dapat diakui, saat lockdown zaman Nabi tidak sedikit memakan korban jiwa. Sebab saat itu teknologi kesehatan belum secanggih sekarang. Namun, kita dapat mengambil prinsip dan manfaat dari isolasi yang dilakukan. Sebagai upaya saling melindungi antarsesama, agar tidak terinfeksi wabah.

Situasi lockdown zaman nabi, juga diterapkan oleh Umar bin Khattab ketika mengunjungi Syam. Cerita ini dikisahkan dalam buku Biografi Umar bin Khattab karya Prof. Dr. Ali Muhammad Ash Shalabi. Pada tahun 18 Hijriyah, suatu hari Umar bin Khattab bersama sabahat-sahabatnya, melakukan perjalanan menuju Syam. Sebelum memasuki Syam, di perbatasan mereka mendengar sebuah kabar tentang wabah penyakit kulit yang menjangkiti wilayah tersebut.

Cara yang dilakukan oleh Amr bin Ash saat mengatasi wabah adalah memerintahkan penduduk untuk tidak saling berinteraksi, dan berpencar di gunung-gunung. Prinsip cara ini adalah tidak melakukan kontak fisik, menjaga jarak antara satu orang dengan selainnya.

vaksinasi immunity dengan banyak istighfar, sholawat, tilawah, taubat, dan banyak ibadah. sebagai suplemen hati dan ruhani untuk tetap fresh, tenang dan tidak terpengaruh oleh suasana dan keadaan. optimalkan ikhtiar, cuci tangan pakai sabun di air mengalir, jaga wudhu, kerjakan yang wajib pelihara yang sunnah, doa sebagai senjata dan taat dengar ulil amri. konsumsi sayur, buah, madu, zaitun, habbats, korma, jahe, berbekam dengan alat steril untuk memenuhi haknya raga, kemudian baru tawakkal. barakkalah, semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *