Menjadi Dosen Produktif dengan Ide Kreativ

       Berdasarkan UU RI No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen : “Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepadamasyarakat”. Institusi akademik mengklasifikasikan penelitian di tingkat universitas sebagai indikator peningkatan kualitas program, fakultas dan mahasiswa (Hu & Gill, 2000). Salah satu output dari penelitian itu sendiri adalah tingkat produktivitas buku ajar yang dihasilkan oleh para dosen perguruan tinggi tersebut. salah satu cara untuk menjadi dosen produktiv dengan ide-ide kreativ yaitu dengan menulis buku. Jumlah mahasiswa yang lebih dari 6.453.252 orang (BPS 2013/2014). Jumlah dosen 257.586 orang (BPS 2013/2014). yang berhasil menerbitkan buku ISBN 2000 orang, menurut sumber  dari: penerbitdeepublish.com/manfaat-menulis-buku. Kondisi tersebut tentu kalah jauh apabila dibandingkan dengan Inggris yang menerbitkan 60000 buku per tahun dan Amerika Serikat yang menerbitkan 100000 per tahun.

Berikut adalah kutipan tulisan yang saya ambil dari Bapak Aan Widhi Atma, MM yang dimuat di Harian Suara NTB, Mei 2015

Seperti yang telah disampaikan di atas, bahwasannya dosen memiliki peluang yang besar untuk meracik ide yang akan dituangkan ke dalam buku karena memiliki akses terhadap sumber informasi yang luas dan beragam. Akses Jurnal Internasional, buku-buku berkualitas hingga tawaran dari penerbit kampus juga tidak kurang. Jika dianalogikan bahwa setiap hari dosen mengajar lebih dari satu mata kuliah, menyiapkan bahan ajar dari berbagai literatur dan disampaikan dengan bahasa sendiri tentunya ini sudah menjadi bahan tulisan.

Apabila dalam satu semester hasil olah pikir para dosen didokumentasikan dalam sebuah buku maka seharus nya setiap tahun dosen bisa menghasilkan lebih dari satu naskah buku. Apalagi di era informasi saat ini tidak sulit untuk menerbitkan buku. Self Publisher menjadi salah satu langkah mudah untuk ditempuh sebelum karya kita dikenal oleh penerbit terkenal. Memang, kalau tujuannya adalah best seller maka itu butuh waktu lama, tapi lebih kepada tanggung jawab sebagai seorang pengajar untuk mengikat ide-ide mengajarnya dalam sebuah buku, itu adalah warisan yang sangat berharga.

Namun kenyataan menunjukkan bahwa kondisi produktivitas buku ajar dosen di Indonesia saat ini masih tergolong rendah. Berdasarkan data dari Ikatan Penerbit Indonesia Jawa Timur (IKAPI) yang menunjukkan bahwa setiap tahunnya hanya lima persen (5%) dosen yang menuangkan buah pikiran dan gagasannya ke dalam sebuah buku. Terdapat beberapa alasan kenapa dosen enggan menulis buku, antara lain adalah rendahnya nilai royalti buku yang diterima dari pihak percetakan jika dibandingkan dengan penghasilan dari proyek, tak ada waktu lantaran sibuk mengajar, sulit membagi konsentrasi, menjabat jabatan struktural di kampus sehingga kesibukan bertambah. (Jawa Pos, 8 Februari 2007).

Oleh karena itu, rendahnya penulisan buku didasarkan pada faktor, pertimbangan, dan alasan sebagai berikut (Lasa HS, 2006): Pertama, kurangnya minat baca masyarakat berimbas pada rendahnya tingkat penulisan. Kedua, menulis dianggap sebagai beban. Ketiga, rendahnya kesadaran transfer ilmu pengetahuan atau pengalaman melalui tulisan (artikel & buku). Keempat, rendahnya penulisan buku mungkin disebabkan ketidakmampuan, kurang percaya diri, takut dikritik, takut salah, takut dicemooh, takut dibajak, dan ketakutan-ketakutan lain.

Yasraf Amir Pilliang (2004) yang juga penulis buku, mengatakan,”Minimnya budaya menulis dikalangan dosen dikarenakan tak ada semacam dorongan institusi sendiri untuk mendorong dosen menulis buku, baik dorongan materiil maupun moril. Dorongan materiil itu diantaranya pemberian dana buat dosen-dosen untuk menulis buku. Seharusnya ada semacam sabatikal atau beasiswa khusus untuk menulis buku ajar atau buku ilmiah” (Kompas, 21 Agustus 2004).

Elia T Ben-Ari (1999) dalam penelitian kualitatifnya yang berjudul “When Scientist Write Books for The Public” menemukan bahwa faktor-faktor yang memotivasi peneliti-peneliti menulis buku untuk masyarakat adalah adanya penghargaan secara personal yang mereka rasakan saat membagi keilmuan dan pengalaman mereka kepada khalayak umum melalui buku. Hal ini dikarenakan dengan menulis buku, lebih banyak individu dari kalangan berbeda yang membaca karya mereka. Sedangkan bila dibandingkan dengan menulis jurnal ilmiah, hanya kalangan akademisi tertentu saja.

Dalam buku “Menebar Gagasan Menuai Pujian – Kiat Menjadi Dosen Produktif (Aan, 2008) terdapat empat faktor yang mempengaruhi produktivitas seorang dosen dalam menulis buku antara lain:

Pertama, motivasi. Banyak hal yang mendorong para dosen untuk menulis buku yang terbagi menjadi motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang bersumber dari dalam antara lain keinginan memperoleh angka kredit untuk kenaikan pangkat, memperoleh promosi, memperoleh kenaikan tunjangan jabatan, memperoleh gelar profesor, dan memperoleh materi/uang/royalti. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah yang bersumber dari luar terdiri dari keinginan untuk memperoleh pengakuan, mempengaruhi orang lain, mendapatkan rasa hormat dari mahasiswa, kepuasan keinginan untuk berkontribusi, kepuasan keinginan untuk berkreativitas, mengamalkan ilmu yang diperoleh dan memperoleh amal jariyah.

Kedua, efikasi diri (self efficacy) yakni keyakinan individu bahwa ia mampu mengerjakan suatu tugas, atau dengan kata lain sejauh mana dosen meyakini dirinya mampu menulis sebuah buku. Efikasi diri seseorang bersumber dari pengalaman penguasaan, keinginan mencontoh orang lain (modeling), persuasi sosial dan kondisi fisiologis. Dosen yang bukunya telah diterbitkan cenderung memiliki efikasi diri yang tinggi dibandingkan yang tidak karena berbekal pengalaman berhasilnya itulah, yang menambah keyakinan untuk menulis buku kedua kalinya. Selain itu efikasi diri dipengaruhi oleh persuasi sosial yang meliputi pengaruh lingkungan kerja terhadap ide/gagasan yang dituangkan ke dalam buku ajar. Tidak bisa dipungkiri lingkungan menjadi faktor utama dalam mendorong seseorang untuk menulis. Kampus yang telah memiliki budaya menulis dengan sendirinya menggerakkan dosennya menghasilkan buku.

Ketiga, beban kerja yakni beberapa kegiatan pokok para dosen yang mencakup merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran, melakukan evaluasi pembelajaran, membimbing dan melatih, melakukan penelitian, melakukan tugas tambahan, serta melakukan pengabdian kepada masyarakat. Ternyata beban mengajar yang berlebih akan mengurangi alokasi waktu dalam menulis buku dan tugas tambahan memimpin yang berlebih akan mengurangi produktivitas buku ajar.

Keempat, Keterampilan (skill) menulis adalah kemampuan menulis para dosen yang diukur dari kemampuan mencari literatur sebagai bahan tulisan dan bagaimana menemukan ide/gagasan (knowledge telling), kemampuan menuangkan ide/gagasan ke dalam tulisan (knowledge transforming) dan kemampuan mengedit hasil tulisan (knowledge crafting). Diketahui bahwa keterampilan memperoleh ide dan gagasan serta menuangkannya dalam sebuah tulisan menjadi faktor penting yang harus dikuasai dosen. Tentunya juga harus didukung dengan penguasaan teknik penulisan ilmiah, tata bahasa yang baik dan benar serta kemampuan mengedit hasil tulisan.

Oleh karena itu setiap usaha untuk memperbaiki produktivitas dan kualitas buku ajar sudah pasti membawa dampak besar bagi pendidikan. Sehingga dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan disebutkan bahwa seorang Guru Besar harus menulis buku. Andaikata tiap profesor secara mandiri mampu menulis satu judul buku ajar tiap tahunnya, alangkah indahnya dunia pendidikan negeri ini. Harapannya dapat memotivasi para akademik yang lain untuk menulis sehingga produktivitas buku ajar semakin meningkat dan mampu menjawab salah satu persoalan yang melilit dunia perbukuan Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *